
Ketika Alam Tak Lagi Diam
Setiap pagi, kita sering melihat tumpukan sampah di tepi jalan, air sungai yang keruh, atau udara yang terasa sesak oleh asap kendaraan. Pemandangan seperti ini mungkin terlihat biasa saja, tapi di baliknya, tersimpan fakta tentang bagaimana manusia mulai lupa menjaga rumahnya sendiri (bumi).
Semua itu, bukan hanya masalah lingkungan saja, tapi juga cerminan bagimana manusia memperlakukan alam. Lingkungan yang rusak, bukan hanya akibat bencana alam, tapi juga karena karena ulah manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan. Di tengah situasi ini, pelajar memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran ekologis yakni kesadaran bahwa manusia dan alam saling bergantung dan harus dijaga keseimbangannya.
Namun, kesadaran itu tidak muncul begitu saja. Ia perlu ditanamkan, dipahami, dan diwujudkan dalam tindakan nyata sejak usia muda. Kesadaran ekologis bukan sekadar tentang membuang sampah pada tempatnya, tetapi tentang memahami bagaimana setiap tindakan kita berdampak pada bumi. Dengan memahami nilai-nilai ekologis, pelajar bisa menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan, baik di sekolah maupun di masyarakat.
Menurut laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK, 2023), kerusakan lingkungan di Indonesia meningkat 7% setiap tahun, terutama karena perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan. Jika dibiarkan, generasi mendatang akan mewarisi bumi yang semakin rapuh. Karena itu, membangun kesadaran ekologis di sekolah bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak agar pelajar tumbuh menjadi generasi yang berpikir hijau dan bertindak bijak terhadap alam.
Dari Sekolah hingga Rumah, Di Mana Kesadaran Itu Tumbuh?
Kesadaran ekologis itu pemahaman bahwa setiap elemen: air, tanah, dan udara memiliki hubungan yang saling memengaruhi. Kesadaran ini tidak tumbuh dari slogan atau teori di buku pelajaran saja, tapi dari kebiasaan yang dibangun setiap hari.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak pelajar yang masih menganggap isu lingkungan sebagai hal yang jauh dari kehidupan mereka. Padahal, mereka juga menjadi bagian dari lingkungan. Banyak pelajar yang sebenarnya sudah tahu tentang pemanasan global atau pencemaran udara, tetapi belum semuanya memahami apa dan bagimana menjaga lingkungan dalam tindakan nyata.
Di era modern ini juga, gaya hidup serba cepat membuat banyak orang, termasuk pelajar, terbiasa dengan kenyamanan instan (makan, minum yang instan-instan dalam kemasan platik). Semua itu terlihat sepele, tetapi dampaknya besar terhadap bumi. Sikap yang seperti ini memperlihatkan jauhnya antara pengetahuan dan kesadaran nyata.
Sekolah sebenarnya memiliki peran penting untuk menjembatani jarak ini. Tapi sayangnya, sebagian besar pendidikan lingkungan masih disampaikan secara teoritis. Padahal, pelajar akan lebih mudah paham jika langsung praktik atau terlibat langsung. Itulah sebabnya program seperti Adiwiyata di sekolah hadir. Dalam program ini, pelajar tidak hanya belajar teori tentang lingkungan, tetapi juga ikut menanam pohon, memilah sampah, dan menjaga kebersihan sekolah. Ini sejalaj dengan data dari KLHK (2022), bahwa kesadaran ekologis siswa terus meningkat hingga 67% di sekolah yang aktif menerapkan prinsip Adiwiyata.
Namun, masalahnya sering muncul setelah bel pulang sekolah berbunyi. Di rumah, banyak siswa tidak mendapat dukungan dari keluarga. Orang tua masih menggunakan kantong plastik sekali pakai, membuang sampah sembarangan, atau tidak peduli terhadap penghematan energi. Akibatnya, nilai-nilai ekologis yang sudah tumbuh di sekolah menjadi sulit bertahan. Padahal, lingkungan keluarga dan masyarakat juga memegang peran penting. Jadi, kesadaran ekologis tidak cukup ditanam di sekolah, tetapi harus dirawat bersama oleh keluarga dan masyarakat. Di sinilah pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Solusi: Menanam Benih Hijau dalam Pikiran dan Perilaku Pelajar
Sehingga diperlukan langkah-langkah yang tidak hanya bersifat teori, tetapi yang menyentuh kehidupan sehari-hari pelajar.
Pertama, sekolah perlu melakukan pendekatan dari hanya hafalan jadi pengalaman. Guru bisa mengajak siswa mengamati perubahan lingkungan di sekitar sekolah. Cara ini dikenal sebagai pembelajaran learning by doing, di mana siswa belajar melalui pengalaman yang relevan dengan kehidupan nyata. Dengan cara ini, pelajar tidak hanya tahu apa itu lingkungan, tapi juga merasakan pentingnya menjaganya.
Kedua, perlu adanya visi sekolah sekolah hijau. Sekolah bisa menerapkan aturan tanpa plastic dilingkungan skolah, menyediakan tempat sampah yang dipilah (organik dan anoraganik), membuat biopori, atau bahkan membentuk komunitas Pelajar Pecinta Alam. Ketiga, keluarga dan masyarakat harus menjadi bagian dari gerakan ini. Orang tua dapat menjadi teladan dengan menanam tanaman di pekarangan, menggunakan ulang wadah plastik.
Keempat, di era digital, pelajar bisa menyebarkan kapmanye nya melalui media sosial. Misal kampanye “go green” Dengan begitu, kesadaran ekologis tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi menyebar luas ke ruang digital tempat generasi muda banyak menghabiskan waktu.
Dengan demikian, menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan pelajar berarti menanam harapan bagi masa depan bumi. Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus berjalan seiring dalam mendorong gerakan ini. Karena bumi bukan warisan yang bisa kita habiskan, melainkan titipan yang harus kita rawat.
Penulis: Muhamad Fauzi Manarul Hidayah